 |
Awal mula krisis usaha kecil dan menengah dinilai masih mampu
bertahan, karena fleksibilitasnya dan ketidak tergantungannya
pada pembiayaan melalui kredit perbankan. Semasa krisis walaupun
banyak UKM yang mengalami kesulitan tetapi juga tidak sedikit
yang berkembang. Namun demikian pada akhir-akhir ini posisi
usaha kecil kembali terancam, karena bangkitnya kembali usaha
besar meskipun masih secara perlahan. Peringatan dini ini memerlukan
perhatian sungguh-sungguh untuk menghindari kekacauan akibat
ketimpangan yang tidak dapat ditolerir lagi di masa datang.
Salah satu usaha yang harus dikerjakan secara serius adalah
pembinaan dan pendampingan terhadap sektor-sektor yang langsung
terkait dengan peningkatan nilai tambah bagi usaha kecil. Sektor
kegiatan yang berkaitan dengan perdagangan sektor riil, perkebunan,
perikanan, dan industri pengolahan adalah kegiatan yang sangat
erat kaitannya dengan penciptaan kekuatan awal bagi usaha ekonomi
rakyat untuk mendapatkan pangkalan bergerak di usaha skala besar
bernilai tambah tingggi. Hal ini juga akan membangun kesinambungan
usaha ekonomi rakyat di sektor primer “yang lebih tradisional”
menjangkau sektor pengolahan yang “modern”.
Dari sisi sumbangan terhadap ekspor, masih terlihat belum mampunya
usaha kecil mengimbangi pengusaha besar menembus pasar. Usaha
kecil dan menengah hanya menyumbang sekitar 15% ekspor kita.
Menurut Tambunan (1999) keunggulan UKM dalam ekspor karena mengandalkan
pada keahlian tangan (hand made), seperti pada kerajinan perhiasan
dan ukiran kayu. Dan jenis kegiatan semacam ini lebih “labor
intensive” dibanding jenis usaha besar yang cenderung
bersifat “capital intensive”.
Penggambaran diatas membuat kami, JPMI (Jaringan Pengusaha Muslim
Indonesia) melihat pentingnya usaha pendampingan dan pembinaan
Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Kami menawarkan program tersebut
sebagai salah satu program kerja kami. Kegiatan ini kami namakan
seri Workshop UKM untuk anggota (khusus) dan non-anggota (umum).
|
Hit Counter |
This page has been viewed 24367 times
|