Dinamika Pasar Halal di Pasar Dunia


Standar halal diusulkan menjadi satu sistem internasional ke dalam International Organization for Standarization (ISO). Usulan tersebut disampaikan oleh empat negara yaitu Indonesia, Turki, Malaysia, dan Thailand.

Sebagaimana dikutip Situs Mediaindonesia.com, Menurut Kepala Pusat Standarisasi Kementerian Perdagangan Arief Adang, saat ini usulan tersebut dalam pembahasan komite. ISO Halal itu diusulkan berlaku untuk produk pangan dan nonpangan seperti kosmetik. Dia menyatakan, “Dengan ISO, standar halal menjadi sebuah sistem dengan mekanisme, persyaratan, dan cara pengujian yang seragam secara intenasional. Hal itu penting, melihat potensi bisnis halal. Indonesia sangat ketinggalan”. Tutur Arief Adang.

Kebutuhan terhadap jaminan produk halal makin dibutuhkan konsumen. Beberapa negara dengan penduduk muslim menginginkan jaminan halal, bukan saja yang berpenduduk muslim sebagai mayoritas namun minoritas muslim seperti halnya di Rusia dan Ingris juga meramaikan program halal. Di Indonesia sebagai pasar produk halal terbesar nampak memang belum sedinamis Malaysia yang telah jauh lebih siap dengan produk halal. Bahkan produk halal Malaysia siap masuk pasar Eropa.

Sementara itu, menghadapi peluang produk halal di dunia, Indonesia ditargetkan menjadi The World Halal Center mengingat posisinya sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun Malaysia akan menjadi rival kuat mengingat kesiapan mereka yang melebihi Indonesia.

Sebagai pasar produk halal terbesar, Indonesia akan menjadi sasaran produk halal dari Malaysia, Thailan dan China. Mereka siap berebut pasar Indonesia dengan sertifikasi halal. Hal ini patut menjadi tantangan bagi wirausaha lokal untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi produk halal dari China, Thailand dan Malaysia. Hal ini juga menjadi program pemerintah dengan kerjasama Departemen Perindustrian, Kementrian Perdagangan, MUI, Departemen Agama, Departemen Pertanian dan BPOM akan menggelar International Halal Expo yang pertama 23- 25 Juli 2010 dengan melibatkan .

Bagaimana dinamika produk halal ini dan bagaiman kesiapan wirasuaha Indonesia menghadapi dinamika perdagangan bebas. Mengingat bukan saja negara dengan mayoritas muslim yang akan meramaikan pasar produk halal, namun negara dengan bukan mayoritas muslim pun menangkap peluang pasar yang sangat besar akan kebutuhan produk halal.

Thailand

Keikutsertaan Thailand dalam mempromotori usulan pengajuan standar halal ke ISO patut diacungi jempol. Pasalnya Thailand bukan merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim. Thailand dalam hal ini mencoba menangkap pasar halal yang besar.

Thailand sangat pintar menangkap peluang. Dia lihat ini peluang besar. Indonesia  harusnya bisa mencontoh negara-negara yang jauh lebih siap. Orang-orang ahli halal yang kerja di Thailand dan Malaysia kebanyakan orang Indonesia. Merekalah yang menyusun lisensinya.

Malaysia

Malaysia memposisikan dirinya dengan baik di pasar dunia. Di saat produk Indonesia masih banyak yang belum bersertifikasi halal, Malaysia telah membuka pusat makanan halal di Xian China. Malaysia juga berhasil mendirikan Halmart Inc Sdn Berhad dan telah membuka outlet di Prancis pada 2007 dan di Inggris pada 2010 dengan target 300 outlet di seluruh dunia. meskipun jumlah penduduk muslim Malaysia kurang dari 10% dari Indonesia, namun Malaysia sangat gencar menarik wisatawan muslim dunia dengan berbagai program dan forum halalnya. Bahkan Malaysia sudah menjadi negara tujuan utama kunjungan wisatawan Timur Tengah ke Asia.

China

Kini ratusan produk Cina telah meraih sertifikat halal. Tidak hanya itu, bahkan beberapa diantaranya pun telah mendalami serta mengimplementasikan Sistem Jaminan Halal yang ditetapkan LPPOM MUI. Inikah bukti keseriusnya Cina menggarap pasar halal Indonesia?

Kesepakatan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang dimulai sejak awal 2010, ternyata membuat Cina lebih serius lagi menggali manisnya peluang pasar halal di Indonesia. Mereka memahami sekaligus juga menyadari, agar dapat masuk ke pasar Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, harus dinyatakan halal dengan Sertifikat Halal dari lembaga yang diakui.

Beberapa diantara perusahaan Cina tersebut juga bahkan telah mempelajari, mendalami, serta mengimplementasikan aspek-aspek Sistim Jaminan Halal (SJH) yang ditetapkan oleh LPPOM MUI. Pastinya guna menjamin kehalalan produk yang dihasilkan secara berkesinambungan, sehingga dari sisi kehalalan produk-produk pangan dari negara tersebut dapat diterima. Bukan hanya berupaya memenuhi berbagai persyaratan komersial maupun kultural, perusahaan-perusahaan dari China tersebut juga aktif melakukan promosi dan penetrasi pasar domestik dengan berpartisipasi dalam berbagai event pemasaran, eksibisi, pameran, dll. Sehingga produk-produknya pun cepat dikenal dan diserap masyarakat, ditambah harganya juga sangat kompetitif.

Eropa

Dalam perkembangan terbaru, tiga kementerian Italia, negeri yang mayoritas penduduknya non-Muslim itu menanda-tangani kesepakatan proyek “Halal Italia” yang merupakan kesepakatan antar menteri di negeri itu untuk menerapkan kebijakan label halal pada produk buatan Italia, antara lain produk makanan, kosmetik dan farmasi.

Berkembangnya produk hala di Inggris, Jerman dan Perancis juga nampak beberapa waktu terakhir.

Seperti kutip dari Detik Food, maraknya produk halal mulai dari daging, buah dan keju. Bahkan kini telah ada keju halal. Dew-Lay Produk Ltd Garstang, Lancashire yang dibangun pada tahun 1957 telah menyediakan bermacam jenis keju untuk para pengecer utama keju di seluruh negeri. Kini perusahaan tersebut meluncurkan produk keju halal untuk pertama kalinya dalam kurun 50 tahun sejarah industri mereka.

Belum lama ini Dew-Lay juga memperkenalkan serangkaian produk keju halal mereka ini di World Food Market di London’s Excel. Dimana lebih dari 250 exhibitors dari 20 negara berkumpul di ajang internasional tersebut untuk memamerkan produk makanan dan terbaik mereka.

“Di Inggris permintaan akan produk halal terjadi peningkatan. Dimana permintaan berasal dari 2 juta muslim di Inggris dan lebih dari 15 juta muslim di seluruh Eropa. Meski permintaan tersebut juga dipengaruhi oleh non-muslim yang ternyata juga mencari dan menikmati produk-produk halal yang dijual,” jelas Masood Khawaja, selaku Direktur Halal Food Authority (HFA).


“foto: Kompas”.

Leave a Reply

Switch to our mobile site