Demokratisasi di Dalam Perusahaan


Adakah perusahaan yang CEO-nya dikalahkan seorang manajer untuk sebuah ide bisnis? Dan, bisakah ide itu mengubah wajah perusahaan, bahkan juga industri? Jawabannya adalah bisa, dan hal itu pernah terjadi di XL.

Pada tahun 2007, pertumbuhan XL tak juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Kondisi yang telah saya amati sejak Februari 2007 ini cukup berat, terlebih kompetisi semakin ketat. Saat itu, saya berpikir: kita harus melakukan sesuatu. Tapi, saya tidak terlalu yakin dengan sesuatu itu walaupun ide dasarnya sudah saya dapat, yaitu menurunkan tarif XL.

Mengapa harus menurunkan tarif? Sebab, kondisi industri saat itu yang masih menawarkan high tariff (Rp 1.000/menit) membuat pelanggan menggunakan layanan voice atau telepon dengan low volume, yakni rata-rata 40 menit sebulan. Ini juga menjadikan tarif seluler di Indonesia sebagai salah satu yang termahal di dunia

Kondisi inilah yang ingin saya ubah. Dengan strategi baru, saya berharap, XL dapat menawarkan tarif murah (low tariff) sekitar Rp 150-Rp 200 per menit. Sehingga, penggunaan layanan voice akan meningkat (high volume) menjadi 4-5 kali lipat.

Namun, saya belum menemukan cara pelaksanaan strategi tadi. Akhirnya, saya menunjuk satu tim yang terdiri dari 7 orang karyawan. Tim ini dipimpin seorang manajer. Tapi anggotanya dari berbagai level manajer lini dan senior (Manager, General Manager, hingga Vice President) dari berbagai unit dan departemen. Cukup unik memang karena yang menjadi team leader memiliki jabatan lebih rendah (Manager) dibanding anggotanya (General Manager dan Vice President).

Tim ini saya beri waktu 2 bulan. Namun, hingga tenggat tinggal tersisa dua minggu, belum juga ada hasil seperti yang diharapkan. Akhirnya, saya menantang mereka untuk bertanding melawan saya sendiri. Agar lebih optimal, saya menunjuk direksi lain untuk bertindak sebagai juri

Saya pun mulai menggagas ide secara pribadi sebagai CEO dan, secara paralel, tim tadi juga menyiapkan ide. Selanjutnya, kami harus mempresentasikan ide masing-masing dan saling mengadu gagasan di hadapan para direksi selaku juri. Setelah adu ide yang tidak kalah seru dengan ajang Indonesian Idol, tenyata, Tim 7 tampil sebagai pemenang. Jadi, saya selaku CEO telah dikalahkan oleh tim yang dipimpin oleh seorang manajer.

Terbukti, ide mereka, yaitu tarif Rp 1/detik, setelah dijalankan sejak Juli 2007, sukses membawa XL meraih pendapatan 2 kali lipat dalam 3 tahun ini. Pelanggan pun bertambah 3 kali lipat. Sementara, trafik percakapan meningkat hingga 6 kali, bahkan 10 kali lipat di beberapa wilayah.

Tarif ini pula yang akhirnya membuat masyarakat dapat menikmati layanan telekomunikasi yang murah dan berkualitas. Tarif seluler di Indonesia berubah dari yang termahal menjadi salah satu yang termurah di dunia.

Itulah hasil kerja Tim 7 yang mengalahkan saya. Saya bisa menerima ini dengan legowo karena saya memang selalu menanamkan kepemimpinan yang demokratis. Saya memilih tipe kepemimpinan ini karena sejalan dengan semangat zaman dan perkembangan perusahaan.

Kini, karyawan lebih suka jika diberi ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Mereka merasa dihargai jika diberi kesempatan mengembangkan usulan-usulan terbaiknya. Inilah hikmah suasana demokratis di dalam perusahaan.


Sumber : Kontan

Ilustrasi Foto : Hasnul Suhaimi, CEO PT XL Axiata

Leave a Reply

Switch to our mobile site