Entrepreneur Organik
Di tengah-tengah degradasi mentalitas dan moralitas kehidupan bangsa ini, masalah ekonomi adalah sesuatu yang paling mendasar diselesaikan. Kita semua menyadari hal tersebut. Sayangnya tak banyak dari kita yang bisa berbuat banyak, terlebih ketika persoalan mendasar ini menyangkut ribuan, bahkan jutaan manusia.
Tetapi sesulit dan serumit apapun, kehidupan selalu memberikan jalan bagi manusia untuk keluar dari kemelut. Membaca buku ini, setidaknya saya melihat ada tiga masalah utama sekaligus tiga solusi jitu bagaimana sebuah terobosan untuk menegakkan ekonomi rakyat, terutama pada kaum mayoritas, yakni petani yang mandiri, berdaya dan memiliki kehidupan yang beradab. Kiprah perjuangan Fuad Affandi, sebagaimana diulas dalam buku ini terasa sangat fenomenal, unik dan telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia toh masih menyimpan aset berupa manusia tangguh.
Tiga masalah itu ialah, kultur agraris, situasi modern globalisasi dan paradigma hidup. Pada konteks kehidupan petani agraris, ada semacam kenyataan bahwa alam subur memang cukup membuai kehidupan masyarakat petani, termasuk anak keturunannya yang berada di kota,- sebagai manusia-manusia yang cenderung kurang ulet.
Alam Indonesia yang begitu memanjakan kehidupan tidak disyukuri sehingga kita semua terlena; tidak mau belajar sungguh-sungguh, gemar hasil instan dan mengabaikan proses, kurang sabaran serta kurang memiliki pandangan hidup yang luas.
Masalah kultur yang belum tuntas diselesaikan ini kemudian menjadi lebih parah manakala modernisasi dalam bentuk globalisasi (baca penjajahan ekonomi kapitalisme global) hadir di Indonesia. Ketidakmampuan manusia Indonesia dalam merespons globalisasi mengakibatkan degradasi mental kian rendah, etos kewirausahaan tak banyak berkembang dan akibatnya jutaan manusia Indonesia memilih menjadi kuli. Lalu tidak heran manakala bangsa ini lantas disebut sebagai bangsa kuli, bahkan bangsa budak.
Dua masalah mendasar inilah yang kemudian membuat orientasi kehidupan manusia Indonesia lemah, dan terus dilemahkan oleh struktur yang tidak adil. Akibatnya mutu kehidupan dalam berbagai bidang, seni, politik, agama, mentalitas, pergaulan sosial, atau kalau mau ringkas dibingkai kebudayaan memunculkan budaya rendah.
Maka, dengan kejelian atas persoalan kontemporer itulah sosok bernama Fuad Affandi menjawab ketiga hal tersebut dengan caranya sendiri, yakni menegakkan etos kerja dan ilmu pengetahuan untuk mengusir kemalasan dan kebodohan, merespons modernisasi sebagai sunnatullah dan berpikir kritis terhadap setiap pergolakan zaman.
Bertani menjadi pilihan perjuangan Fuad karena sektor ini memiliki alasan yang paling kuat, antara lain, mayoritas penduduk negeri ini agraris, hasil bumi yang selalu dibutuhkan dan secara turun temurun ilmu pengetahuan dan pengelolaan pertanian (sekalipun tradisional) sudah dimiliki rakyat. Basis inilah yang menjadi landasan gerak perjuangan sang wirausahawan organik di kalangan rakyat jelata.
| Judul | : Entrepreneur Organik |
| Penerbit | : Nuansa Cendekia |
| Penulis | : Faiz Manshur |
| ISBN | : 9786028395953 |
| Tebal | : 390 halaman |
| Harga | : Rp. 88.000,- |

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed