Membenahi Krisis Identitas
Tantangan sebagai pemimpin adalah ketika memimpin organisasi/perusahaan yang sudah kehilangan identitas. Salah satu contoh perusahaan yang menghadapi tantangan seperti ini ialah PT Pos Indonesia.
PT Pos Indonesia sebelumnya adalah idola. Dahulu, orang datang berkerumun ketika mendengar bunyi bel sepeda pak pos. Sekarang, sangat sulit menemukan peristiwa itu lagi. Identitas PT Pos yang dulu identik dengan warna oranye kini telah hilang. Tukang pos dan para pegawai PT Pos mulai memakai seragam warnai warni.
Ada krisis identitas lain yang tak kalah penting untuk segera dibenahi. PT Pos adalah perusahaan yang berdiri sejak zaman Belanda, yang kemudian diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Nah, orang-orang di dalamnya masih kental budaya birokrat yang enggan untuk bersaing.
Untuk menyelesaikan krisis identitas semacam ini, ada tiga tahapan yang bisa dilakukan, di mana setiap tahapan harus ada koridor atau tolak ukurnya. Ketiga tahapan itu meliputi: input value, process values, dan output value.
Pembenahan melalui input value, yakni mengembalikan integritas karyawan, memperkuat komitmen, meningkatkan kemampuan adaptasi, meningkatkan nilai-nilai spiritual, dan menghargai martabat orang lain.
Tahap kedua, mengutamakan process values. Dalam memimpin perusahaan, process value meliputi peningkatan kerjasama antar tim, peningkatan disiplin semua anggota tim, peningkatan respon dan penyelesaian yang tepat atas setiap masalah yang muncul. Lalu, mempertajam sasaran yang tepat, dan meningkatkan pola berpikir sistematis untuk mencapai sasaran. Kemudian, mengajak semua tim bertanggungjawab. Jangan lupa evaluasi dan memberikan apresiasi terhadap pencapaian kinerja.
Setelah semua dilakukan, hasilnya akan terlihat dalam output value. Bentuk output value yang terlihat di hadapan pelanggan, antara lain: pelayanan dan interaksi yang baik antara perusahaan dengan pelanggan, serta mampu menyampaikan produk dan layanan dengan media komunikasi yang tersedia.
Tujuan akhir yang paling penting: mencapai kesejahteraan karyawan. Jika kesejahteraan karyawan tercapai, maka kepuasan pelanggan (costumer satisfaction) juga bakal lebih maksimal.
Untuk meraih hal tersebut, seorang pimpinan juga harus membenahi internal perusahaan agar lebih efektif, memiliki sistem perusahaan yang baik dan key performance indicators (KPI) yang terukur.
Pemimpin yang baik harus bisa menyampaikan program kepada seluruh karyawan. Jangan sok jago sendiri dan hindari sistem pengambilan keputusan yang sentralistis.
Kondisi PT Pos Indonesia, sebelumnya kebijakan terlalu tersentralisasi. Keputusan tergantung kantor pusat. Padahal PT Pos punya ribuan kantor cabang yang tersebar luas. Karena sering terlalu lama menunggu kebijakan dari pusat, akibatnya masalah berlarut-larut, pengawasan kendor, berlanjut ke banyak penyimpangan dan ketidakdisiplinan. Ujung-ujungnya, layanan PT Pos pun melorot. Persoalan ini harus dibenahi, dengan memberikan kewenangan kepada kantor cabang mengambil keputusan sendiri.
Tak lupa, pemimpin harus menciptakan semangat bagi dirinya dan orang yang ia pimpin. Anggap saja dunia ini semua indah dan menyenangkan. Nikmati sajalah. Selain memimpin perusahaan, misalnya, kita juga bisa membuat majalah ilmiah atau menjadi konsultan yang berguna untuk orang lain. Hasilnya, jaringan terbentuk, pergaulan luas, dan potensi diri terus berkembang.
Sumber: Kontan

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed