Jelang Lebaran, Bisnis Aksesori Motor Menangguk Untung
Berkah Ramadan tak hanya dicicipi pengusaha parsel dan makanan. Para penjual perlengkapan pengendara sepeda motor juga membukukan omzet yang kinclong. Koceknya makin tebal seiring peningkatan penjualan untuk mudik Lebaran.
Peningkatan jumlah pengendara sepeda motor di Indonesia, terutama di kota-kota besar, menjadi berkah bagi para penjual aksesori pengendara sepeda motor. Peluang mengeruk rezeki dari usaha ini semakin moncer setelah pemerintah menetapkan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) helm.
Berkahnya semakin bertambah lantaran keuntungan kian menebal selama bulan Ramadan ini. Pasalnya, sebagian masyarakat masih mengandalkan sepeda motor sebagai kendaraan mudik ke kampung halamannya. Otomatis, mereka perlu mempersiapkan berbagai perlengkapan sebelum berkendara ke luar kota.
Mario Martin, pemilik Kasambilan Motor di Bandung, mengatakan, omzet tokonya meningkat signifikan dari bulan ke bulan. Bahkan, sejak akhir Juli lalu, rata-rata omzetnya meningkat dari Rp 20 juta menjadi Rp 25 juta sebulan.
“Kenaikannya sekitar 20% dari bulan normal,” ujar Mario, yang sudah menekuni bisnis ini sejak delapan tahun lalu. Peningkatan omzet tersebut didukung oleh sistem penjualan secara langsung maupun melalui internet (online).
Yust Tamaro, pemilik toko aksesori sepeda motor RodaDua di Pondok Aren, Tanggerang, menikmati peningkatan omzet yang lebih besar dibandingkan Mario. Pada bulan Agustus lalu, penjualannya melesat dari rata-rata Rp 30 juta menjadi sekitar Rp 40 juta. “Mendekati 50% kenaikan omzetnya,” ungkap Yust. Seperti halnya Mario, dia juga menawarkan produknya melalui dunia maya.
Menurut Mario, beberapa produk yang saat ini laris manis adalah sarung tangan, rompi, kacamata plastik, helm serta sarung motor. Jenis sarung tangan tersedia dari bahan kulit domba, kain, maupun karet sintetis.
Untuk sarung tangan, sebulan Mario mampu menjual 130 pasang dari berbagai jenis dan model. Jumlahnya meningkat drastis dari penjualan bulan normal, yang hanya sekitar 90 sampai 100 pasang.
“Rompi dalam seminggu lalu laku terjual 100 unit,” imbuh Mario. Padahal, di bulan biasa hanya terjual sekitar 120 unit. Adapun sarung sepeda motor seharga Rp 95.000 dalam sebulan bisa terjual sebanyak 60 unit. Produk lain yang cukup laku adalah pelindung tubuh atau body protector.
Meski sama-sama menawarkan sistem penjualan online, Kasambilan dan RodaDua memiliki strategi pemasaran yang berbeda. Jika harga yang ditetapkan oleh Kasambilan Motor sudah termasuk ongkos kirim, maka RodaDua menawarkan promosi bonus produk pada nilai belanja tertentu.
Yang jelas, berkat sistem pemasaran online, kedua pelaku usaha ini mampu menembus pasar di luar Jawa. Pangsa pasarnya meluas hingga Aceh, Balikpapan, Palangkaraya, Makassar, dan Papua.
Di sisi lain, Mario dan Yust Tamaro tidak berniat menaikkan harga penjualan meski permintaan cukup tinggi selama Ramadan. Alasannya, menurut Mario, kompetisi bisnis perlengkapan sepeda motor ini sudah semakin ketat. Sehingga faktor harga sangat sensitif. “Banyak barang yang di bawah harga kami, seperti dari China. Tapi kualitasnya tidak jelas,” imbuhnya.
Jika Kasambilan memproduksi sendiri beberapa produk yang dijualnya, RodaDua mendatangkan produk dari perajin di Kebon Jeruk, Bogor, dan Garut.
Sumber berita : kontan-online

Tweet This
Share on Facebook
Digg This
Save to delicious
Stumble it
RSS Feed