Bisnis adalah Perang: Panduan JPMI untuk Pengusaha Kecil Menengah
Bisnis dan Dakwah Bisnis ini adalah Perang
Saya sering kali melihat bahwa banyak diantara umat Islam yang tidak merasa bahwa sebetulnya kita ini sedang dijajah secara ekonomi. Lebih buruk lagi, bukan hanya tidak merasa, tapi bahkan ada yang merasa bangga. Bangga kalau dapat menggunakan mobil Toyota, senang dengan hand phone keluaran Nokia, bermimpi memakai jam Rolex, nyaman dengan ikat pinggang dan sepatu La Coste, menulis dengan ballpoint Mont Blanc dan mengetik dengan cepat dengan PC berprocessor Pentium IV Artinya, kalau di fikir-fikir lebih dalam lagi, bahwa seluruh kegiatan kita sehari-hari tergantung pada produk yang diproduksi oleh musuh-musuh kita. Saya membayangkan salah satu karakteristik kemenangan ummat Islam secara ekonomi kalau sudah ada mobil misalnya bermerek Sayaroh, jam tangan bagus bermerek Saa’ah, dan produk2 industri lainnya yang mendunia yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat dunia. Sangat naïf kalau kita tidak melihat bisnis ini sebagai perang, karena ternyata seluruh perusahaan-perusahaan besar dan Negara-negara maju itu melihat bisnis memang sebagai perang. Jepang jelas-jelas menyatakan bahwa semangat bushido (ksatriaan, semangat menaklukkan), diganti dari pedang ke teknologi. Meiji bilang kalau Jepang kalah dalam percaturan dunia, maka akan menjadi Negara pecundang. Artinya, mereka melihat kancah percaturan dunia ini sebagai perang. Istilah “percaturan” sendiri itu pun menunjukkan permainan perang yang secara diambil dari permainan catur yang jelas-jelas ada raja, perdana mentri, kuda, benteng dsb. Hanya saja, dalam dunia bisnis “peperangan” ini bernama kompetisi. Mengapa saya lebih senang menggunakan kata perang dari pada kata kompetisi? Jawabannya adalah untuk memompa semangat pebisnis-pebisnis muslim yang mencita-citakan kejayaan. Jawabannya juga adalah kita semua yakin bahwa kalau bisnis ini merupakan perang, maka barang siapa yang ikut dalam perang, hitungannya adalah jihad. Dengan semangat jihad dalam bisnis ini, maka kekuatan dari dalam kita, pebisnis-pebisnis muslim, tidak akan terhentikan, tidak tertahankan. Saya tahu ada sebuah perusahaan muslim anggota JPMI yang produk-produknya mulai memasuki toko buku Gramedia. Dan karena lama-lama semakin besar, maka ternyata para pesaing mulailah untuk melobi pihak-pihak Gramedia agar tidak megambil barang dari saudara kita itu. Kalau orang melihat itulah kejamnya dunia kompetisi, kalau saya melihat itulah perang. Perang dalam menyebarkan produk-produk Islami, dan perang dalam memenangkan persaingan. Bisa dibayangkan kalau kita tidak memiliki mental perang dalam bisnis ini, betapa sangat mudah untuk memaklumi dengan kata-kata “yah… itulah kompetisi…”. Bandingkan semangat kita dengan kalau kita lihat bahwa ternyata musuh-musuh kita tidak menginginkan produk-produk yang Islami ada pasar, atau musuh-musuh kita tidak menginginkan karyawan-karyawan kita hidup sejahtera, karena kita “kalah perang”. Apakah memang kita selalu siap untuk “kalah perang?”
Bentuk parnership yang saya dan pak nurcholiq bangun agak menarik, karena kami membuat bisnis dengan pembagian saham 50:50. Sebetulnya dalam bisnis, pembagian saham dengan bentuk seperti ini agak aneh, karena biasanya dalam bisnis selalu ada pemegang saham yang dominan. Istilahnya, disinilah saya dan pak nurcholiq berikrar bahwa kita harus selalu bersama, karena jika tidak, maka perusahaan ini harus dilikuidasi. Potensi kekuatan kami dalam berbisnis berimbang. Seluruh bentuk pemecahan masalah akan dilakukan bersama dan tidak ada yang dominan dalam mengambil keputusan. Seluruh permasalahan bisnis dalam NCR Group ini selalu kami diskusikan bersama, tidak ada yang memecahkannya sendiri. Saya biasa telepon pak nurcholiq jam 1 malam, jam 5 pagi habis subuh, berjam-jam hanya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang selalu timbul dalam bisnis, yang sifatnya selalu urgent. Jadi dalam partnership ini harus dipahami betul oleh ikhwah-ikhwah yang ingin berbisnis bahwa keinginan untuk selalu share, menjaga perasaan dan keterbukaan dalam bisnis adalah sangat penting.